Bangun Tiga Kawasan Wisata, RI Utang Bank Dunia US$ 200 Juta

Judi On Line Jakarta- Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur dan sarana penunjang di tiga dari 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Pembangunan itu dengan bantuan pinjaman dari World Bank (Bank Dunia) senilai US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun. “Pariwisata, kita punya target 20 juta wisatawan masuk sampai dengan 2019. (dipenuhi) dengan cara memperbaiki, merehabilitasi, dan membangun destinasi baru. Yang kita laksanakan sekarang ialah memperbaiki destinasi utama dulu yang sudah berkembang untuk lebih dikembangkan,” kata JK, Jumat (21/10). Dia mengatakan, ketiga destinasi wisata tersebut adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Mandalika di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan kata lain, tersebar mulai dari barat hingga timur Indonesia. JK mengungkapkan pembangunan infrastruktur yang disiapkan adalah bandara, akses jalan, ketersediaan air dan listrik serta perbaikan kawasan wisata dengan mengedepankan selera turis. “Kita fokus tiga itu selesai sehingga kita menciptakan another Bali,” kata dia. JK mengatakan, pemerintah tidak hanya fokus pada Bali, tetapi ada Borobudur, Mandalika dan Danau Toba. “Kemudian dari Borobudur orang ke Semarang. Di barat, orang dari Toba bisa ke Bukittinggi dan sebagainya. Karena sekarang ini kita butuh suara konsumen, maka kita pakai konsultan yang mengerti kebutuhan konsumen, World Bank. Sekaligus World Bank membantu pinjaman untuk membangun infrastrukturnya,” papar JK. Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan bahwa pemerintah akan fokus pada pembangunan infrastruktur di tiga kawasan wisata khusus pariwisata. Dibutuhkan kerja sama sejumlah kementerian di antaranya, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Untuk itu, Luhut mengharapkan masterplan selesai pada awal November dengan fokus pada pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing kementerian. Dengan bantuan pinjaman Bank Dunia, pemerintah berharap pembangunan kawasan pariwisata di Danau Toba bisa rampung pada kuartal kedua atau ketiga 2019. Sementara wisata Candi Borobudur akan dibuat terintegrasi dengan Candi Mendut, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta, dan Solo. Sedangkan wisata Mandalika, sesuai konsep awal yang disesuaikan dengan dominasi investor Timur Tengah. “World Bank akan memberi bantuan cukup besar. Kita berharap mulai 2018 dananya sudah didapat tapi 2017 dananya sudah ada sebagian yang masuk, untuk prastudi dan sebagainya,” ungkap Luhut, Jumat (21/10). Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan bahwa dana sebesar US$ 200 juta akan terbagi dua tahap. Pertama, dana persiapan proposal atau proposal preparation fund (PPF) akan dicairkan pada Januari 2017. Kedua, penandatanganan kontrak pinjaman utuh dilakukan pada Juni 2017. Hanya saja, belum ditentukan skema pinjaman, termasuk tingkat bunga sebab akan dinegosiasikan pada April 2017. Dana pinjaman tersebut, jauh lebih kecil dibandingkan rencana pembiayaan pemerintah semula, yaitu merehabilitasi 10 destinasi prioritas dalam paket dengan kebutuhan investasi mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 260 triliun. Meski disepakati dana yang disiapkan pemerintah 50 persen atau sekitar US$ 10 milliar dalam bentuk pembangunan infrastruktur dasar, seperti jalan, tol, bandara, pelabuhan, rel kereta api, dan sebagainya. Sedangkan, sisanya dipenuhi oleh investasi swasta. Itu pun terkendala Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang hanya mampu memenuhi kebutuhan infrastruktur untuk pariwisata Rp 6 triliun per tahun atau Rp 30 triliun dalam lima tahun. Dengan kata lain, hanya 30 persen dari kebutuhan. Novi Setuningsih/WBP Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu