Masjid Qishos di Jeddah, yang Masih Menjadi Primadona Wisata Para Jamaah Haji Indonesia Ada Rumput S

Judi On Line Masjid Qishos di Jeddah masih menjadi tempat wisata yang hampir selalu dikunjungi para jamaah haji, terutama dari Indonesia. Khusus selama musim haji, eksekusi hukuman “mengerikan” yang biasanya dilaksanakan setiap selesai salat Jumat di masjid itu diliburkan dulu. Mengapa” Inilah catatan wartawan Jawa Pos Agus Wirawan yang baru pulang dari sana. ======================================== JIKA hukuman qishos diterapkan, majikan perempuan Sumiati (TKW yang disiksa di Arab Saudi) seharusnya mengalami siksaan seperti yang dialami Sumiati. Itu pun jika majikan Sumiati tersebut dinyatakan terbukti bersalah. Jika majikan Sumiati itu benar-benar di-qishos, eksekusi akan dilaksanakan di Masjid Qishos, Jeddah. Masjid tersebut tidak jauh dari pusat perbelanjaan Corniche atau yang biasa disebut Pasar Balad, yakni sekitar 500 meter. Tempat itu juga menjadi lokasi belanja terfavorit yang dikunjungi para jamaah haji Indonesia. Hukuman paling mengerikan yang dilaksanakan di halaman masjid tersebut adalah pancung bagi para pelaku pembunuhan. Bagi mereka yang mencuri, tangannya akan dipotong. “Hukuman potong tangan kali terakhir sekitar tiga bulan lalu sebelum haji,” kata Mursyid, seorang WNI yang tinggal di sekitar kawasan Kandara, Jeddah. Informasi yang didengar Mursyid, si pencuri itu ditangkap saat beraksi di salah satu supermarket di wilayah Laut Merah. Namun, aksi tersebut bisa diketahui berkat rekaman kamera CCTV. Akibatnya, pencuri itu harus rela kehilangan salah satu tangannya karena tindakan tidak terpuji tersebut. “Hukuman berat itulah yang membuat di Arab Saudi sangat jarang ada kasus pencurian,” ungkapnya. Selama tiga tahun bekerja di Arab Saudi, Mursyid yang sehari-hari bekerja di sebuah biro perjalanan itu tak pernah mendengar adanya kasus pencurian mobil. “Kalau mobil, paling yang hilang cuma spion atau aksesori lain yang mahal-mahal. Kalau mobilnya, nggak pernah ada pencurian,” ceritanya. Bagi pelaku pembunuhan, hukumannya lebih mengerikan. Yakni, kepalanya dipancung oleh para askar (polisi Arab Saudi, Red). Eksekusi itu dilakukan di hadapan khalayak ramai di pelataran Masjid Qishos. Pemancungan kepala dilaksanakan di bawah tenda permanen dari besi di pelataran masjid tersebut. Sebuah alat potong seperti pisau besar baru didatangkan ketika hukuman akan dilaksanakan. Sayang, kata Mursyid, hukuman qishos terkesan diskriminatif. Sebab, hukuman itu tidak berlaku bagi warga negara Saudi yang membunuh TKW. “Dulu pernah ada, tapi tidak di-qishos. Dia hanya bayar denda,” ujarnya kesal. Muhammad Firdaus, ketua masjid Indonesia Jeddah, mengakui bahwa hukuman qishos memang masih diberlakukan di negara tersebut. Sebab, Saudi merupakan negara kerajaan yang berdasar ajaran Islam sehingga semua aturan yang dijalankan sesuai syariat Islam. “Untuk yang mencuri, tangannya akan dipotong, sedangkan pelaku pembunuhan akan dipenggal kepalanya,” tuturnya. Hukuman pancung seperti itu, menurut dia, biasanya dilakukan selesai (ba?da) salat Jumat di Masjid Qishos. Petugas akan mengumumkan melalui loudspeaker masjid tentang hukuman tersebut sesaat sebelum pelaksanaan. “Hukuman pancung memang sengaja dilakukan di hadapan umum,” lanjutnya. Tujuannya, lanjut Firdaus, memberikan efek jera bagi mereka yang menonton agar tidak meniru perbuatan si terpidana. Meski aktivis hak asasi manusia (HAM) di berbagai belahan dunia menentang pemberlakuan hukuman seperti itu, pemerintah Saudi masih menjalankannya. “Tapi, kalau pas musim haji, hukuman itu diliburkan dulu,” tambahnya. Pemerintah Saudi, tampaknya, tidak menginginkan hukuman seperti itu menjadi cerita buruk tentang negaranya. “Mungkin pemerintah Saudi tidak ingin jamaah haji yang menjadi tamunya ngeri melihat hukuman seperti itu,” ungkapnya. Sebaliknya, pemerintah Saudi berusaha membuang kesan angker di masjid tersebut. Caranya, di halaman masjid itu dibikin taman dengan rumput hijau sintetis. Di belakang masjid bercat putih yang di atasnya terdapat sekitar sepuluh kubah tersebut juga dibikin danau buatan yang sangat luas. Tak heran, pada musim-musim haji seperti sekarang ini, banyak jamaah yang berkunjung ke masjid itu. Ketika berada di masjid tersebut, Jawa Pos bertemu sekitar 200 jamaah haji plus Al-Aziziyah dari Surabaya. Ruangan Masjid Qishos yang sebelumnya lengang langsung terisi 80 persen orang Indonesia saat salat Asar. “Pesawat (ke Indonesia) kami pukul 10 malam nanti. Jadi, masih ada waktu untuk jalan-jalan di Jeddah,” kata Haji Munif, salah seorang pemandu jamaah. Dia menyatakan, Masjid Qishos merupakan lokasi wisata pertama yang didatangi rombongannya ketika tiba di Jeddah. Setelah itu, jamaah Al Aziziyah akan berbelanja di Pasar Balad, kemudian dilanjutkan wisata ke masjid terapung di Laut Merah. “Kami pengen tahu seperti apa hukuman Islam diterapkan di negara ini,” jelasnya. (c5/kum) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN