Mendagri Dukung Perfilman Nasional Berkembang

Judi On Line Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mendukung industri perfilman nasional dapat semakin berkembang. Selain itu, Tjahjo menyambut baik ide film pendek yang bercerita tentang potensi daerah dalam bingkai NKRI. “Film-film nasional agar lebih banyak lagi. Produser maupun sutradara perlu mengemas film-film yang nasionalis, heroisme, percintaan, termasuk film pendek soal daerah,” kata Tjahjo saat menerima pengurus Persatuan Artis Sinema Indonesia (Parsi) di ruang kerjanya, Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Jakarta, Selasa (27/9). Dia menuturkan, beberapa pemerintah daerah (pemda) ada yang telah mengalokasikan anggaran untuk pembuatan film daerah. “Tapi ada yang salah jalan. Pemain filmnya dari Malaysia, Sutradara dari Malaysia, tapi anggaran dari kita,” tuturnya. Ide film daerah dilontarkan Waketum Parsi, Derry Drajat. “Kita buat konsep membuat film daerah. Film itu salah satu cara jitu nasihat, wejangan untuk anak muda,” kata Derry. “Kita ingin cerita bagaimana para pemuda itu tahu, oh saya ini orang Bengkulu, lalu Bengkulu dulu seperti apa, sekarang dan ke depan bagaimana. Kemudian bagaimana Jakarta, hingga Indonesia.” Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Parsi, Anwar Fuadi mengatakan, Parsi akan mendirikan sekolah akting. “Semua harus punya ilmu akting untuk menjadi aktor besar. Anak-anak muda harus dididik menjadi artis film, MC, dan lainnya. Sekarang hanya mengandalkan alam enggak bisa,” kata Anwar. Dia menjelaskan, nama organisasi Parsi dulunya Persatuan Artis Sinetron Indonesia. Setelah pengurus baru dilantik, lanjutnya, disepakati kata sinetron diganti dengan sinema. “AD/ART semua kita ubah. Sekjen (Sekretaris Jenderal) Raffi Ahmad, Wasekjennya ada Irwansyah, Denny “Cagur”, Humas atau Public Relation Dude Herlino. Ketua-ketuanya ada Tommy Kurniawan, Citra Kirana, Nikita Willy, Ben Kasyafani, Marini Zumarnis,” jelasnya. “Saya hanya menjembatani bikin organisasi itu begini, setahun dua tahun lagi saya mundur. Pengurus Parsi rekam jejaknya jelas. Enggak ada dukun, guru spiritual. Jadi memang betul-betul pemain film yang dikenal masyarakat.” Sementara itu, Derry mengatakan, organisasi profesi artis belum banyak. “Memang ada Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia), di situ harusnya berkumpul artis film, tapi semua tidak di sana itu artis, banyak yang di Parsi,” kata Derry. Dia menyatakan, tidak mudah untuk bergabung menjadi anggota Parsi. “Kita tidak pernah memaksa atau merayu,” tegasnya. Identik Anwar mengakui, banyak masyarakat yang berpandangan dunia keartisan identik dengan penyalahgunaan narkoba. “Ada suatu pandangan bahwa artis itu sangat identik sama narkoba, padahal kan tidak seperti itu. Hanya kebetulan ada beberapa artis top yang terlibat (narkoba),” katanya. Dia menambahkan, jumlah artis di Indonesia mencapai ratusan. “Tapi yang kena narkoba itu enggak sampai 20 orang. Cuma karena artis milik masyarakat, apa saja yang dilakukan artis jadi buah bibir,” imbuhnya. Dia memastikan anggota Parsi tidak ada yang menggunakan narkoba. Dia juga mendukung langkah pemberantasan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). “Di Parsi tidak ada. Kalau ada (anggota Parsi) terlibat narkoba, langsung kita keluarkan,” ucapnya. “Saya sudah tekankan di mana-mana, kalau artis terkena narkoba siapapun dia, hukum seberat-beratnya, karena mereka memberi contoh yang buruk kepada masyarakat.” Carlos KY Paath/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu