Berpamitan untuk Selamanya

Prediksi Togel Sidney Bencana alam gempa bumi yang mengoyak ranah minang terus menyisakan cerita-cerita pedih. Kali ini, giliran Ungku Kutar seorang kakek yang sedih ditinggal cucu semata wayangnya Moran untuk selamanya.Ia menyesali, mengapa waktu itu tidak mencegah kepergian Moran, beberapa saat setelah gempa mengoyak bumi. Ungku Kutar, tak henti mengusap tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Cucu semata wayangnya terbujur kaku di halaman rumahnya. Warga Nagari Sikacua, V Koto Timur, Padangpariaman ini seakan menyesali diri sendiri, mengapa Moran cucunya dibiarkan pergi begitu saja. Seandainya ia berupaya mencegah kepergian Moran, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sore itu Moran, cucu Ungku pamit akan pergi jauh bersama keluarga egi. Egi adalah teman sepermainan Moran. Sambil mengayuhkan sepedanya, Moran berteriak “Kek, kami mau pergi jauh bersama keluarga Egi,” teriaknya. Ungku memang tidak menanggapi celotehan Moran dengan serius. Ia hanya sempat bertanya balik, “Moran mau pergi jauh kemana?” Belum sempat menjawab pertanyaan kakek, Moran sudah mengayunkan sepedanya meninggalkan Ungku. Tidak firasat buruk dibenak Ungku. “Seperti biasa, kalau Moran pergi pastilah menonton televisi di rumah temannya,” kata Ungku seperti menyesali keadaan. Egi adalah teman bermain dan juga sekolah Moran. Ia tinggal di dusun sebelah Nagari Padang Alai, tak jauh dari tempat tinggal Ungku. Nagari Sikacua dan Nagari Padang Alai, merupakan dua dusun yang saling bertetangga. Dari kota Pariaman, dua dusun ini bisa ditempuh selama tiga puluh menit. Di desa Nagari Sikacua ini, Ungku tinggal berdua dengan cucunya Moran. Ketika Moran pergi ke rumah teman, Ungku pun tinggal sendirian di rumahnya. Ketika gempa mengguncang, sebenarnya Nagari ini masih aman-aman saja. Bahkan, kepergian MOran menonton televisi ke rumah temannya karena didorong keinginan untuk menyaksikan siaran langsung televisi yang menyiarkan kejadian gempa di kotanya. Usai gempa Rabu pekan lalu, listrik langsung padam di kawasan itu. Karena berita gempa, membuat hasrat Moran menonton televisi tak terbendung. Bersama belasan anak-anak lainnya, siswi kelas V SD ini menyimak berita yang disajikan berbagai stasiun televisi, yang ada di rumah sahabatnya di rumah Egi. Keluarga Egi, tergolong berada di Nagari Padang Alai. Keluarga ini memiliki perangkat (receiver), yang bisa menangkap hampir seluruh channel televisi. Saat gerimis mengucur di kawasan itu sekitar pukul 19.40 WIB, kawasan itu tiba-tiba bergejolak. Usai adzan Isya berkumandang, perbukitan yang ada di sekitar Nagari Padang Alai mengalami terban hingga menimpa tiga nagari yang ada di bawahnya. Korban pun berjatuhan. Tak heran, laporan sementara perangkat nagari Padang Alai, korban yang menonton televisi di rumah Egi sekitar 15 orang. Dari 15 orang itu, baru tujuh orang yang berhasil dievakuasi dari rumah Egi hingga Rabu (7/10). Moran semenjak berusia 3 tahun, telah ditinggal pergi ke dua orang tuanya. Ayah dan Ibu Moran meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Karena tak ada orang yang akan mengasuh lagi, Moran dibesarkan sang kakek Ungku Kutar. Pada Rabu (30/9) lalu, sang kakek yang telah lama kehilangan istri berikut anak-anaknya itu, harus kembali merasakan duka yang mendalam. Cucu sebagai pewaris keturunannya, juga telah dipanggil keharibaan illahi. “Kenapa tidak saya saja yang diambil. Kenapa harus dia,” kata Ungku Kutar dengan kalimat terbata-bata. Ungku Kutar tidak pernah menyangka dan membayangkan, akan kehilangan Moran dalam waktu secepat ini. Namun, Ungku Kutar akan tetap berusaha tabah dalam menghadapi cobaan hidup ini. Menurutnya, di balik segala sesuatu yang terjadi itu, pasti ada hikmahnya, yang pastinya kita sebagai manusia harus tetap tabah menerima apapun yang akan di takdirkan oleh Allah SWT. Saat ini, Ungku Kutarpun hidup sebatang kara dan tinggal menerima nasib yang telah di tuliskan oleh-Nya. (r/aj) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN