Industri Meubel Indonesia Harus Kejar Prestasi Vietnam

RIMANEWS – Kebijakan dari Menteri Perdagangan mengenai kebijakan sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dinilai terlalu berat bagi pengusaha meubel. Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Soenoto meminta kebijakan tersebut dikaji kembali agar prospek meubel nasional tetap hidup. Apabila pemerintah tetap menjalankan aturan tersebut, para pengusaha meminta pemerintah menanggung biaya tersebut. “SVLK perlu dikaji ulang. Masih banyak yang belum memiliki. Ini karena rumit dan mahal, harga Rp 20 sampai Rp40 juta,” katanya di JIExpo, Selasa (11/3). Baca Juga Ekspor dan Impor RRC Naik di Bulan November Indonesia Melaju ke Final AFF 2016 Jokowi Gelar Nonton Bareng Timnas di Bali Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan industri mebel Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam. Hidayat menyatakan pemerintah harus lebih giat melakukan ekspor furniture pada tahun mendatang. Sebagai informasi, Soenoto menjelaskan nilai total ekspor Indonesia hanya USD1,7 miliar atau 1,5 persen kontribusi ekspor mebel di dunia. Sedangkan nilai ekspor Vietnam sebesar USD4,2 miliar dan berhasil di posisi ke-4 terbesar dunia. “Target kongkrit agar produksi kita meningkat. Dalam 5 tahun harus sudah mencapai USD 5 miliar,” ungkap Hidayat. (chus) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Ekonomi , ekspor , industri , Vietnam , meubel , Ekonomi , ekspor , industri , Vietnam , meubel , Ekonomi , ekspor , industri , Vietnam , meubel

Sumber: RimaNews