Pemerintah Tidak Serius Kuatkan Rupiah, Kenapa?

Rimanews – Melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati Rp13 ribu per dolar dinilai karena pemerintah tidak serius membuat kebijakan yang pro-rupiah. Pengamat pasar uang Fahrial Anwar mengatakan, pemerintah telah membuat UU Mata Uang, hanya saja regulasi yang mengatur teknis pelaksanaannya tak kunjung lahir. Baca Juga Rupiah Terus Menukik Dekati Rp 13.600 per Dolar Rupiah Tembus Rp 13.500 per Dolar AS Ahok: kenapa cuma saya yang digugat menista agama? “UU-nya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Pemerintah ditunggu-tunggu, mana Peraturan Pemerintah-nya, nggak dikasih sampai sekarang,” kata Fahrial kepada Rimanews di Jakarta, Sabtu (20/12). Menurut dia, UU No. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang ibarat peringatan larangan merokok di suatu tempat, tapi kerap dilanggar banyak orang. Baik pejabat publik, pebisnis, maupun masyarakat awam, nyata-nyata sering melanggar Pasal 21 UU Mata Uang. Dalam Ayat 1 Pasal 21 UU No. 7 Tahun 2011, diatur bahwa penggunaan rupiah sebagai mata uang dalam transaksi keuangan adalah wajib adanya. Rupiah wajib digunakan dalam: Setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; Penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan atau Transaksi keuangan lainnnya yang dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fahrial menambahkan, dari belum adanya turunan UU Rupiah, Bank Indonesia sebaga bank sentral praktis hanya mengandalkan regulasi terbatas untuk mempidanakan para pelaku transaksi keuangan di dalam negeri dengan mata uang asing, khususnya dolar. “Sudah mulai diberlakukan di Batam. Jadi misalnya anda bertransaksi dengan saya, lalu saya minta pakai dollar saja bayarnya, atau kita sepakat pakai mata uang asing, itu bisa ditangkap polisi kalau ketahuan BI,” ujarnya. Sementara itu, pengusaha dan politikus Suharso Monoarfa menyebut sekarang saatnya pemerintah membuat rupiah berdaulat dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Caranya, dengan memaksa semua warganya melakukan segala macam transaksi bisnis hanya menggunakan rupiah. “Apalagi, 2015 sudah Pasar Bebas ASEAN. Jadi, kembalikan itu kedaulatan rupiah. Pedagang-pedagang dari negara tetangga boleh jualan di sini, tapi mata uangnya pakai rupiah. Jadi rupiah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Suharso.[] Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : rupiah anjlok , politik , Nasional

Sumber: RimaNews