Rekonstruksi Pembunuhan, Kanjeng Dimas Cengegesan

Probolinggo – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan ‘Sultan’ Abdul Gani dan Ismail Hidayah di lingkungan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Senin (3/10). Dalam rekonstruksi itu Dimas Kanjeng yang selalu tampil cengengesan memerankan 74 adegan yang terdiri dari 67 adegan yang sudah di- list oleh penyidik dan ada 7 adegan tambahan sehingga seluruhnya menjadi 74 adegan. Adegan itu di antaranya, tersangka (pecatan Kapten AD) Ahmad Suryono yang semula tidak tercatat dengan perintah menunggu korban di pojok selatan pendapa padepokan. Pada adegan 27 sampai 46, korban Abdul Gani yang diperankan petugas dari Polda Jatim mulai memarkir mobil Avanza putih N-1216-NQ di depan Asrama Putra. Selanjutnya korban dipersilakan masuk kantor dan berbicara dengan tersangka (pecatan Letkol AD) Wahyu Wijaya selama 5 menit. Begitu menginjak adegan 34, korban diajak ke kamar untuk menyerahkan uang Rp 130 juta, karena Abdul Gani saat itu bermaksud meminjam uang. Begitu uang Rp 130 juta akan diserahkan Wahyu ke Abdul Gani di ruang Asrama Putra Padepokan, Kurniadi (warga asal Lombok) langsung memukul tengkuk korban dengan pipa besi hingga tersungkur. Tubuh korban yang terjengkang langsung ditindih Kurniadi. Bersamaan dengan itu tersangka Boiran menjerat leher korban. Caranya memasukkan kolong tali parasit kemudian menarik ke atas dari arah depan sampai korban tidak bergerak. Boiran juga memasukkan tas kresek warna biru ke kepala korban yang kemudian diikat oleh tersangka Wahyu melakban dari leher sampai hidung korban. Korban ditelanjangi kemudian dimasukkan ke boks (kotak) plastik ukuran 90 cm x 70 cm. Baru kemudian mayat korban yang sudah dimasukkan dalam kotak plastik dipindahkan ke mobil yang sudah disiapkan oleh tersangka (pecatan Letkol AD) Wahyudi. Selanjutnya mobil Toyota Avanza hitam yang sudah disiapkan sejak semula, berangkat ke Wonogiri dikemudikan Serma RD, oknum TNI AU dibantu Kurniadi dan Boiran. Sementara itu Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Abdurahman Saleh, Mayor Hamdi Landong Alo, mengungkapkan, Serma RD yang terlibat pembunuhan dijerat oleh penyidik intern pelanggaran Pasal 340 KUHP, 55 KUHP jo to Pasal 56 KUHP yakni pembunuhan terencana dan ikut serta. RD saat diperiksa penyidik, mengaku menjadi santri selama 4 tahun dan sudah menyerahkan mahar kepada Dimas Kanjeng Taat Pribadi sebesar Rp 5 juta. Sedangkan untuk anggota TNI AU yang menjadi korban (penipuan) Dimas Kanjeng ada 5 orang termasuk RD sendiri, tambah Hamdi. Korban Dimas Gunarsih, isteri almarhum Kasianto (49) yang juga pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi, warga Tambak Asri XV/6 Surabaya melaporkan dugaan penipuan dan pembunuhan yang dilakukan Dimas Kanjeng ke Polresta Tanjung Perak, Surabaya, Senin. Ia mencurigai kematian suaminya (Kasianto) kemungkinan diracun oleh Dimas Kanjeng dan menolak diagnosa rumah sakit yakni adanya satu paru tidak berfungsi. “Kami menduga kalau kematian ada sangkut pautnya dengan air suci pemberian Dimas Kanjeng yang telah diminum suami saya sebelum kemudian jatuh sakit. Ketika meninggal, jari-jari tangannya menghitam,” ujar Gunarsih yang melapor ke Polresta Tanjung Perak didampingi adik almarhum, Winu Sunarsono. Sementara dalam kasus penipuan yang dialami Kasinto telah menyerahksn uang mahar sebesar Rp 300 juta. Suaminya menerima sebuah kotak kayu berwarna coklat dengan ukuran sekitar 15×10 cm. Kotak itu disebutkan berisi emas setengah kilogram. Ketika suaminya meninggal Maret 2015 di RS Adi Husada, Surabaya, ia dan keluarga baru berani membuka kotak kayu yang ternyata berisi perhiasan berwarna emas mulai dari kalung, gelang, dan jam. Ada juga sebuah kantong berwarna merah, lembar uang dollar, baht, won, selendang warna hijau, jimat, ID card padepokan, serta akik atau batu perhiasan. Ditemukan juga sebuah keris kecil yang jika disarungkan akan membentuk sebuah tongkat komando. Semua yang dilihat secara kasat mata oleh Gunarsih sebagai barang palsu. “Yang katanya emas tapi sangan ringan,” ujar Gunarsih. Kepergian suaminya bersama teman-temannya yang berjumlah 15 orang seminggu sekali ke Padepokan Dimas Kanjeng. Kapolres Tanjung Perak AKBP Takdir Mattanete membenarkan adanya laporan tersebut dan kini sedang menindaklanjuti. Aries Sudiono/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu